The 29th International Seminar on Sea Names betajuk "Sustainable Geographical Naming at the Border Region for Peace and Tolerance: Asian Perspectives" di kampus UI, Depok, Jawa Barat.

DEPOK, Jakartaobserver.com- Sebuah seminar internasional membahas penamaan geografis (toponimi) di kawasan perbatasan untuk perdamaian dan toleransi dalam perspektif Asia digelar di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis-Jumat (19-20/10/2023).
 
The 29th International Seminar on Sea Names betajuk "Sustainable Geographical Naming at the Border Region for Peace and Tolerance: Asian Perspectives" yang disponsori oleh Korea Hydrographic and Oceanographic Agency dan Korean Culture and Information Service, dihadiri pembicara ahli dan peserta dari berbagai negara di antaranya Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, Filipina dan Amerika Serikat (AS), selain tentunya dari Indonesia.
 
Kegiatan ini diselenggarakan hasil kerjasama The Society for East Sea; Northeast Asian History Foundation, Universitas Indonesia, Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Indonesian Toponyms Community (Kotisia).
Prof. CHOO, Sungjae

Kolaborasi seminar internasional dalam kajian toponimi perbatasan laut, mengurai akar permasalahan, wacana mengenai penyelesaian sengketa nama laut, pengaruh teknologi pemetaan dijital untuk penguatan nilai-nilai universal perdamaian dan toleransi, budaya. warisan, inklusi, dan masalah toponimik lainnya. Dalam perspektif Asia Timur dan sekitarnya.
 
Indonesia sebagai negara kepulauan yang luasperairan 6,4 juta KM2 (77 persen luas wilayah NKRI) telah mengembangkan teknik penamaan fitur geografis dan lautnya. Pengembangan database nama yang sangat besar telah menunjukkan kemampuan penting untuk menyelesaikan dan mengurai permasalahan penamaan geografis dalam negeri. Pada saat yang sama, terdapat masalah teritorial dan penamaan darat dan laut dengan negara-negara terdekat di wilayah perbatasan dan lokasi yang sensitif secara geopolitik.
 

 Seminar ini menandai permulaan baru dalam tema dan ruang lingkupnya. Perspektif Asia terhadap ruang laut memperluas perhatiannya pada isu-isu keberlanjutan bertetangga antar negara dengan damai dan toleran. Perhatian secara terus menerus melalui seminar tahun-tahun sebelumnya Toponim East Sea (Laut Timur) oleh Korea diupayakan menjadi Identitas untuk perairan antara Semenanjung Korea dan kepulauan wilayah Jepang.
 
Nama Laut Timur telah mendapatkan pengakuan signifikan secara internasional dalam beberapa dekade terakhir yang memperkuat warisan budaya Korea dalam penamaan maritim. Selanjutnya, nama geografis Laut Timur mewakili keadilan dalam penyelesaian sengketa nama badan air tersebut. Mencapai keberlanjutan, perdamaian dan toleransi melalui penamaan geografis juga merupakan tujuan yang diinginkan negara-negara Asia Tenggara.

Para panelis

 Seminar ini menyambut baik diskusi aktif mengenai teknologi digital dan penerapannya pada toponimi, terutama ketika menyampaikan informasi tentang nama geografis yang kontroversial. Warisan dan keragaman budaya mengharuskan keputusan mengenai nama geografis harus mencerminkan nilai-nilai dan harmoni bersama. Rekomendasi praktis dan layak untuk mengakomodasi penamaan lokal dalam konteks wilayah perbatasan darat dan laut sangat dianjurkan. Menandai bahwa toponim merupakan produk sosial budaya setempat.
 
Sering munculnya permasalahan khususnya di wilayah frontier, dikarenakan adanya belenggu-belenggu sejarah (prisoners of history, meminjam istilah Keith Lowe) yang memuncukan wilayah-wilayah yang mulanya merupakan lansekap budaya bersama yang kemudian terbagi oleh pihak-pihak yang berkuasa. Dan tidak jarang di bagian-bagian wilayah tersebut penghuninya mengalami penuh dengan ketidakpastian atau precarisation (meminjam istilah Jörg Zeller) dari perspektif keruangan menghasilkan ruang-ruang yang penuh ketidakpastian atau precarious place. Tindakan operasi dengan logika kerja sosial prekarisasi olehnya disebut sebagai prkatek masyarakat dengan moralitas dan mentalitas yang tidak etis. Menjauh dari lanskap damai yang toleran.
 

 Seminar ini akan mencakup presentasi artikel ilmiah, tanya jawab dan diskusi ahli. Seminar ini berformat presentasi dan tatap muka diskusi ahli toponimi. Diskusi yang kaya dan berlimpah memunculkan banyak gagasan baru, mengungkap fakta, mengurai permasalah-permasalahn yang sulit diurai atau wicked problems atau super wicked problem (meminjam istilah Rittel dan Webber), yang dirangkum dalam proseding seminar internasional nantinya akan dipublikasikan.
 
Seminar international memberi makna perdamaian dan toleransi di perbatasan ( khususnya di Asia) semoga tidak terjadi seperti di perbatasan Gaza, Palistina dan Israel. Di sana banyak wilayah/region warga hidup dengan ketidakpastian (precarious place) akibat berabad-abad terbelenggu sejarah (prisoners of history) mereka. Di lokal Indonesia belenggu sejarah tersebut (antara warga Jawa dan Sunda) berupaya rekonsiliasi yang diprakarsai elite setelah lebih dari 8 abad melalui munculnya sistem toponim dalam penguatan perdamaian dan toleransi dengan silang odonim (saling menggunakan penamaan nama jalan) : Siliwangi – Majapahit, Hayam Wuruk - Dyah Pitaloka Citraresmi , atas dasar tragedi Perang Bubad Kisah Roman Antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka Citraresmi dan keterlibatan Gajah Mada dalam presentasi artikel ilmiah Fajar Erika dkk.


Meskipun upaya kedua pemerintah daerah tersebut ada yang berjalan masih ada menghadapi penolakan dari beberapa komunitas, memang tidak mudah mengurai permasalahan budaya yang pelik dan komplek (wicked problems) . Namun upaya ini membuktikan bahwa toponim merupakan salah satu bentuk yang dapat difungsikan untuk situasi tersebut dengan tetap memperhatikan hal-hal yang kontraproduktif di masyarakat.
 
Sementara itu Harry Ferdiansyah, Koordinator Divisi Toponimi, Badan Informasi Geospasial (BIG) mengungkapkan dengan seminar ini berharap masyarakat dan generasi muda untuk tidak lupa belajar toponimi laut, “Generasi Z jangan lupa belajar Toponimi Laut dan jelajah ilmu pengetahuan toponimi perbatasan untuk perdamaian dan toleransi antarbangsa," ucap Harry.
 

Para pakar dari negara lain menyumbangkan pemikirannya dalam diskusi yang produtif dengan sudut pandang keilmuannya (terangkum dalam rekomendasi yang akan dicetak bersama proseding), yang hadir antara lain Lee Sang-tae, President of the Korean Territorial Society membahas The East Sea is the life of Koreans; Jihwan Yoon dari Hankuk University of Foreign Studies membahas Wahy Should Multiple Naming Be Claimed in Support of UN Sustainable Development Goals?"; Kemudian Nguyen Quang Anh dan Nguyen Quang Ngoc dari Vietnam National University Ha Noi membahas The East Sea (Bien Dong) naming issue, dari Vietnam; Dr Kim Jong-geun dari Northeast Asian History Foundation membahas East Sea in Old Maps; Joseph P Stoltman, Professor of Geography Emeritus Western Michigan University Kalamazoo, MI USA membahas Geographical Naming and Geography Education: Applying Rational/Rationale Contexts to the East Sea/Sea of Japan Naming Issue; dan pembicara dari Indonesia.
 
Hadir juga sebagai moderator: CHOO, Sungjae; CHOI Yangsun; KIM Young –Hoon; YOO Euy-sang, Dr Triarko Nurlambang, YOON Okkyong Sebagai discussant : LEE Chang-Wee, Darlene J Occena-Gutierrez, Sonya P Sugandi, CHOI Yangsun, Asep Karsidi, KIM Young-won, CHUNG Jaejeong, Rahajeng Palungsari HADI, Iqbal Putut Ash-Shidiq, Harumi Manik Ayu Yamin, YOON Okkyong, Amelia Burhan, CHUNG Young Mi, Bradley C Freeman, KIM Shin, Nguyen Quang Anh, Agus Setiawan, Joseph P Stoltman, YOO Euy-sang, YOON Kyong-Ho.
 
Di hari keempat rangkaian kegiatan seminar international dilaksanakan excurtion menggunakan Bus perjalanan dari Kota Depok enutu Kota Tua Jakarta yang dipandu oleh Lilie Suratminto, ahli Toponimi Kotisia; dan Angeline Basuki dari Konsorsium Kota Tua Jakarta, dan rangkaian seminar seluruhnya berjalan sesuai rencana.
 
Selamat jalan dan bertemu di seminar tahun depan. (taqyuddin/jo4)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.