Tahukah Kamu Ada Tiga Pelabuhan di Ajibata, Sudah Ada Sejak 1970-an
![]() |
| Foto: Tiga lokasi pelabuhan di Ajibata, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. |
Ada tiga pelabuhan yang tersedia di Ajibata. Pertama, adalah Pelabuhan ASDP Ajibata yang menjadi Pelabuhan bagi KMP Ihan Batak yang melayani lintasan Ajibata-Ambarita. Pelabuhan ini diresmikan penggunaannya oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Februari 2022. Lokasi Pelabuhan ini adalah Pelabuhan pertama yang didapati saat pengunjung tiba di Ajibata dari Parapat-Tigaraja.
Kedua, adalah Pelabuhan Kapal Tradisional yang berada bersebelahan dengan Pelabuhan ASDP. Pelabuhan ini sudah ada sejak 1970-an melayani berbagai lintasan diantaranya Ajibata-Nainggolan, Ajibata-Onan Runggu, Ajibata-Urat, Ajibata-Tomok termasuk rute lebih pendek seperti Ajibata-Horsik, Ajibata-Sigapiton dan lainnya. Pelabuhan ini adalah pelabuhan milik Lehem Sirait atau Tokke Pinggir, dan hingga saat ini berkontribusi bagi peningkatan PAD maupun peningkatan ekonomi masyarakat dan dukungan bagi pengembangan pariwisata Danau Toba.
Ketiga, adalah Pelabuhan Kapal Ferry KMP Tao Toba yang berlokasi di Kelurahan Pardamean Ajibata, yang jaraknya cukup jauh dari Pelabuhan ASDP maupun Pelabuhan Lehem Sirait. KMP Tao Toba merupakan kapal feri yang selain mengangkut penumpang juga mengangkut kendaraan roda empat maupun roda dua, sama seperti KMP Ihan Batak milik ASDP. Bedanya KMP Tao Toba adalah milik swasta, yang sudah ada sejak 1984, jauh sebelum kapal ASDP hadir.
"Jadi tidak banyak orang yang tahu di Ajibata itu ada tiga Pelabuhan, jadi tidak hanya Pelabuhan ASDP dengan KMP Ihan Batak yang dioperasikan tahun 2022, bahkan Pelabuhan sebelumnya sudah ada sejak 1970-an yaitu Pelabuhan Lehem Sirait yang masih eksis sampai sekarang dengan kapal-kapal tradisional," kata Asi Sirait, salah satu cucu dari Lehem Sirait atau Tokke Pinggir saat ditemui di Ajibata, Sabtu (18/4/2026).
Menurut Asi, pelabuhan yang dikelola oleh ASDP saat ini tanahnya pada awalnya Sebagian besar adalah milik Lehem Sirait, namun sekitar tahun 1973 dibeli oleh Pemkab Tapanuli Utara sejalan dengan rencana Proyek A,B,C di Ajibata meliputi proyek pelabuhan, pasar, hotel hingga lapangan terbang Sibisa. Pemkab Taput melalui Bupati Taput saat itu Mangaraja SM Sinaga membujuk Lehem Sirait untuk mau menjual tanah itu demi pembangunan di Ajibata dan Toba.
"Opung Tokke Pinggir dibujuk supaya mau memberikan demi pembangunan Ajibata. Kalau kita sendirian tentu tidak akan sanggup membangun Ajibata ini, itu alasannya opung mau, karena ingin Ajibata maju dan masyarakatnya sejahtera," ujarnya.
Maka tahun 1974 diadakan pesta untuk dimulainya pelabuhan ini. Tapi sayangnya walaupun dermaga dibuat di lahan yang dibeli pemerintah namun tidak bisa dipergunakan dengan baik karena selalu tenggelam dan kebanjiran. "Sehingga kapal-kapal lebih senang bersandar di dermaga kita yang ada sebelahnya berdampingan," sambung Asi.
Sejak dulu kontribusi pelabuhan lama ini bagi pemasukan daerah memang tidak kecil. Bahkan adanya onan atau pasar yang juga diadakan di areal terminal membuat lokasi Pelabuhan ini menjadi pusat keramaian dan pusat transaksi bisnis para pedagang hasil bumi dari Samosir dan sekitarnya.
Asi juga menyebut, naik kapal kayu tradisional memiliki sensasinya tersendiri dibandingkan dengan naik kapal ferry. Di kapal tradisional bisa dinikmati makanan dan minuman khas Batak yang tidak dimiliki kapal ferry. Di kapal tradisional juga dapat dirasakan sensasi petualangan sesungguhnya untuk menikmati Danau Toba.
"Saran saya kalau mau merasakan sensasi yang terbaik menikmati Danau Toba, naiklah kapal kayu tradisional dari Ajibata. Minum sedikit tuak atau dali ni horbo di dalamnya sambil menikmati angin danau. Anda bisa bernostalgia dengan pasangan berdua, naik kapal ini dan turun misalnya di Nainggolan atau Onan Runggu. Dari sana lanjut ke destinasi lain di Samosir merasakan langsung keindahan, kesegaran dan keramahan masyarakat," sambungnya.
Mau coba? (j)

Tidak ada komentar: