Pancasila Benteng Ideologis dan Kompas Moral di Tengah Perkembangan Teknologi

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Hotel 21 Purwodadi, Grobogan.

PURWODADI, Jakartaobserver.com-Pancasila menjadi benteng ideologis sekaligus kompas moral bagi bangsa Indonesia, dan memastikan bahwa kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi tetap sejalan dengan nilai-nilai keindonesiaan—menjaga harmoni, kemanusiaan, dan keadilan sosial di tengah dunia yang semakin kompleks.
 
Saat melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR di Hotel 21 Pwd, Jalan MT Haryono No137, Jajar, Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (11/3/2026) siang, anggota DPR/MPR dari dapil Jateng III Dr Evita Nursanty, MSc meminta masyarakat mencermati perkembangan tersebut sehingga membawa dampak positif bukan sebaliknya bagi Indonesia.

”Arus informasi dan nilai-nilai dari berbagai negara mengalir sangat cepat tanpa batas. Hal ini membawa dampak positif berupa kemajuan pengetahuan, keterbukaan, dan kolaborasi global, tetapi juga menimbulkan tantangan serius terhadap jatidiri bangsa Indonesia,” kata Evita.

Evita lalu memberi contoh ideologi asing yang dapat memengaruhi generasi muda Indonesia seperti individualisme dan materialisme yang mengedepankan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama.

”Jika masyarakat kita terlalu terpengaruh oleh pemikiran ini, maka rasa gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia bisa luntur,” sambungnya.

Kemudian liberalisme ekstrem atau kebebasan tanpa batas misalnya dengan menganggap kebebasan mutlak sebagai simbol kemajuan dan menganggap norma agama atau budya sebagai hal yang kuno.

Selanjutnya adalah radikalisme dan ekstrimisme, yang menolak dasar negara Pancasila dan menganggap kelompok lain sebagai musuh, dorongan untuk mendirikan negara agama atau menolak pemerintah yang sah, atau paham komunisme yang tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi Pancasila.

Dalam hal ini, menurut Evita Nursanty, Pancasila berfungsi sebagai penyaring (filter) terhadap pengaruh tersebut, agar masyarakat dapat mengambil hal-hal positif dari luar tanpa kehilangan kepribadian nasional. Nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan menjadi pedoman dalam menilai apakah suatu ide atau tren sesuai dengan semangat kebangsaan Indonesia.

Pancasila juga menegaskan arah dan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah derasnya arus global, Pancasila menjadi pedoman untuk menjaga keutuhan NKRI dan menghindarkan masyarakat dari disintegrasi akibat perbedaan ideologi, suku, agama, atau kepentingan politik.

”Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara yang hidup dan diamalkan, Indonesia tetap memiliki arah pembangunan yang berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial, bukan hanya kepentingan ekonomi atau kekuasaan,” sambungnya.

Disamping itu, Pancasila merupakan panduan moral dan etika digital. Perkembangan teknologi komunikasi (internet, media sosial, AI) membuat interaksi masyarakat semakin terbuka, tetapi juga menimbulkan masalah seperti ujaran kebencian, hoaks, dan polarisasi sosial.

Pancasila memberikan landasan moral dan etika digital, misalnya nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mendorong sikap saling menghargai dalam ruang digital, nilai Persatuan Indonesia menolak segala bentuk provokasi dan intoleransi, serta nilai kerakyatan menegaskan pentingnya dialog, musyawarah, dan kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab.

Dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini—melalui pendidikan, kebijakan publik, dan budaya digital—bangsa Indonesia dapat membangun ketahanan ideologis.

Artinya, meskipun dunia berubah cepat, masyarakat tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa, tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar, dan mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas nasional. (jo3)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.