Kekacauan Perjalanan Timur Tengah, Hampir 14.000 Penerbangan Dibatalkan

Foto: Ilustrasi

JAKARTA, Jakartaobserver.com- Ratusan ribu wisatawan terdampar di Timur Tengah setelah pembatalan ribuan penerbangan akibat perang yang berkecamuk di seluruh wilayah tersebut. 

Hampir 14.000 penerbangan yang dijadwalkan berangkat dari bandara-bandara besar di 10 negara telah dibatalkan sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, menurut data dari Flightradar24.

Data penerbangan menggambarkan gambaran suram jalur penerbangan yang kosong di langit yang biasanya ramai. Beberapa bandara dan maskapai penerbangan di Teluk Persia telah sepenuhnya menangguhkan operasi normal. Hingga 6 Maret, 10 negara telah menutup wilayah udaranya sepenuhnya atau sebagian pada suatu waktu sejak serangan tersebut, menurut Flightradar24.

Bandara Internasional Dubai di Uni Emirat Arab — salah satu pusat penerbangan tersibuk di dunia yang menghubungkan 291 destinasi — telah membatalkan 85 persen penerbangan terjadwalnya sejak 28 Februari. Pada bulan Februari saja, bandara tersebut menangani 4,9 juta kursi, menurut Panduan Penerbangan Resmi, sebuah referensi untuk data perjalanan udara.

Penerbangan telah dibatalkan dengan tingkat yang tinggi di bandara lain di wilayah tersebut, termasuk sekitar 90 persen penerbangan dari Sharjah, sebuah emirat yang berbatasan dengan Dubai, bersama dengan 94 persen dari Doha, Qatar.

Terlepas dari ketidakpastian yang terus berlanjut di wilayah tersebut, beberapa bandara mulai melanjutkan penerbangan pada hari Rabu, termasuk Dubai, Abu Dhabi, dan Bandara Internasional King Khalid di dekat Riyadh, Arab Saudi.

Lebih dari 300.000 warga negara Inggris tinggal di atau transit di negara-negara Teluk, menurut menteri luar negeri Inggris. Dan pada hari Rabu, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa lebih dari 17.500 warga negara Amerika telah kembali ke Amerika Serikat dari Timur Tengah sejak 28 Februari. (jo2)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.