Pancasila Jadi Filter Tata Perilaku Era Digital
![]() |
| Foto: Sosialisasi yang diadakan Minggu (8/2/2026) siang di Balai Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. |
"Antara lain dengan sopan santun, harus menjaga etika, saling menghormati, dan menghindari penyebaran ujaran kebencian, hoaks, atau konten yang merugikan orang lain, memupuk rasa persaudaraan dan menghindari perpecahan, radikalisme, atau polarisasi akibat berita palsu," kata anggota DPR/MPR RI Dr Evita Nursanty, MSc.
Hal itu disampaikan Evita dalam kegiatan sosialisasi yang diadakan Minggu (8/2/2026) siang di Balai Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
"Pancasila menjadi pedoman untuk bertindak sesuai norma hukum, agama, dan kesopanan, sehingga teknologi digunakan untuk tujuan produktif dan membangun, bukan merusak," sambungnya.
Dijelaskan, dalam menggunakan media digital, harus dipikirkan apa dampak informasi atau posting yang dibuat terhadap orang lain, sebab kita mudah yang penting komen atau posting dulu soal benar atau tidak itu belakangan. Hal ini akan menjadi masalah jika ternyata apa yang disampaikan itu hanya hoax.
Begitu juga bahasa yang digunakan, sebagai negeri yang memiliki Pancasila, kita diajak untuk menggunakan bahasa yang sopan, santun, menjadi pembawa damai, menghargai privasi orang lain dan melakukan diskusi yang sehat.
Disini, Evita Nursanty mengingatkan, nilai-nilai Pancasila juga berlaku di ruang digital. Misalnya, dalam melakukan komunikasi di dunia digital kita harus selalu menghargai perbedaan, membina kerukunan hidup, jangan menista agama, serta toleran. Disisi lain, sebagai pengamalam sila kedua, pengguna dunia digital juga mengakui persamaan derajat, sigap membantu, tenggang rasa, junjung HAM, dan kolaborasi.
Sila ketiga, cinta tanah air, menghargai kebhinekaan, utamakan bangsa, dan persatuan. Sila keempat, utamakan musyawarah untuk mufakat, hargai dan laksanakan hasil musyawarah, serta hargai pendapat orang lain. Sila kelima, bekerja keras, hormati hak orang lain, peduli mengurangi penderitaan orang lain, dan bergotong royong.
Pada bagian lain, Evita Nursanty menekankan juga pentingnya sikap saling menghormati, dan hidup berdampingan dalam harmoni di tengah perbedaan di Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, sebagai semboyan negara Indonesia sebagai dasar untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia, dimana kita haruslah dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu hidup saling menghargai antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya tanpa memandang suku bangsa,agama,bahasa,adat istiadat,warna kulit dan lain-lain.
Bhineka Tunggal ika menggambarkan konsep bahwa meskipun Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan budaya, bangsa Indonesia tetap menjadi Kesatuan yang tidak terpisahkan. Kemudian menggambarkan juga toleransi dan saling menghormati Semboyan Bhineka Tunggal Ika mengajarkan pentingnya nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan hidup berdampingan dalam harmoni ditengah perbedaan.
Bhineka Tunggal Ika mengajarkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dlam suku, agama, dan budaya, perssatuan dan persaudaraan harus dijaga, itu merupakan tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia. Semua kekayaan budaya Indonesia merupakan warisan yang harus dijaga dan dipertahankan sebagai identitas Nasional. (jo3)

Tidak ada komentar: