Menjaga NKRI, Mengamalkan Bhinneka Tungga Ika dalam Kehidupan Sehari-hari

Foto: Irine Yusiana Roba Putri saat Sosialisasi Empat Pilar yang diikuti warga desa dan orang tua murid dari SD Inpres Talaga Paca, Halmahera Utara, Maluku Utara, Kamis (5/2/2026).

TALAGA PACA, Jakartaobserver.com- Bhinneka Tunggal Ika berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu jua" bermakna bahwa keberagaman suku, ras, agama, dan budaya di Indonesia bukanlah pemecah belah, melainkan alat pemersatu bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
Secara filosofis, hal itu merupakan pengakuan keberagaman yaitu menghargai dan menerima perbedaan sebagai anugerah Tuhan yang harus dijaga. Juga bermakna toleransi yaitu saling menghargai antarsesama tanpa memandang latar belakang.

"Implementasi dalam kehidupan sehari-hari antara lain menerapkan sikap toleransi antarumat beragama dan tidak mendiskriminasikan suku tertentu," kata anggota DPR/ MPR asal dapil Maluku Utara Irine Yusiana Roba Putri.

Hal itu Irine Yusiana Roba Putri dalam Sosialisasi Empat Pilar yang diikuti warga desa dan orang tua murid dari SD Inpres Talaga Paca, Halmahera Utara, Maluku Utara, Kamis (5/2/2026).

Sosialisasi kali ini bertema “Dengan Nilai-Nilai Empat Pilar Kebangsaan, kita harus tetap menjaga dan menerapkan aspek ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dalam kehidupan sehari-hari dan selalu menjaga NKRI”.

Para peserta sosialisasi sangat antusias dengan sosialisasi ini terlebih pada terhadap topik bahasan dan diskusi kali ini. Salah satu orang tua murid mengemukakan pendapat mereka tentang Bhinneka Tunggal Ika.

“Jangan karena berbeda pendapat dan perbedaan kultur budaya, kita menjadi terpecah! Jadikan perbedaan menjadi pemersatu! Berbeda tetap satu jua,” kata seorang peserta.

Nampak masyarakat sangat menikmati topik pembicaraan Sosialisasi 4 Pilar kali ini. Terlebih, mereka akan mencerminkan sifat toleransi terhadap setiap hal dalam kehidupan sehari-hari. Peserta lainnya juga mengemukakan pendapat mengenai NKRI.

“Karena persatuan itu penting, kita harus saling menghargai pendapat dan harus bisa menerima masukan. Banyak orang yang hanya bisa memberikan kritik tanpa solusi yang membangun. Dari situ dapat menyebabkan perpecahan dan ajang adu pikiran dan mulut. Jadi sebaiknya kita semakin bijak memposisikan diri kita agar bisa berbaur dengan sesama kita," ucapnya. (jo3)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.