Bahasa Indonesia di Era Gen Z: Antara Kreativitas Digital dan Tanggung Jawab Kebahasaan


Oleh Nugraha

DEPOK- Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara drastis, terutama bagi Generasi Z yang tumbuh dan berkembang bersama media sosial. Platform seperti Instagram tidak lagi sekadar menjadi ruang berbagi visual, tetapi juga menjelma sebagai arena utama penggunaan bahasa sehari-hari.
 
Dalam konteks ini, Bahasa Indonesia mengalami transformasi yang signifikan, baik dari segi bentuk, fungsi, maupun cara penggunaannya.

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang komunikatif, ekspresif, dan cepat beradaptasi dengan teknologi. Dalam arus komunikasi digital, Bahasa Indonesia yang digunakan cenderung lebih ringkas, santai, dan kreatif. Singkatan, akronim, serta istilah populer kerap digunakan sebagai strategi komunikasi agar pesan dapat tersampaikan secara cepat dan relevan dengan audiens digital.

Instagram menjadi salah satu platform yang berperan besar dalam membentuk gaya bahasa Generasi Z. Melalui fitur caption, komentar, hingga story, pengguna memiliki kebebasan berekspresi dengan bahasa yang tidak selalu terikat pada kaidah baku. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti kebutuhan sosial serta budaya penggunanya.

Di sisi lain, pengaruh globalisasi juga turut mewarnai penggunaan bahasa di kalangan Gen Z. Campur kode antara Bahasa Indonesia dan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, kerap digunakan untuk memberi kesan modern dan universal. Namun, penggunaan bahasa asing yang berlebihan berpotensi mengaburkan identitas bahasa nasional apabila tidak disikapi secara bijak.

Kebiasaan menggunakan bahasa informal di media sosial pun menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang mengalami kesulitan membedakan konteks penggunaan bahasa, sehingga gaya bahasa media sosial terbawa ke dalam tulisan akademik, laporan resmi, maupun komunikasi formal lainnya.

Hal ini menjadi perhatian penting dalam upaya menjaga kualitas penggunaan Bahasa Indonesia baku.Meski demikian, bahasa gaul dan bahasa baku sejatinya memiliki fungsi yang berbeda dan tidak saling meniadakan. Bahasa populer berperan dalam membangun kedekatan sosial, sementara bahasa baku berfungsi menjaga ketepatan dan kejelasan komunikasi formal. Kesadaran terhadap konteks penggunaan bahasa menjadi kunci utama agar keduanya dapat digunakan secara proporsional.

Menariknya, media sosial juga membuka peluang besar sebagai sarana literasi Bahasa Indonesia. Munculnya berbagai konten edukatif kebahasaan di Instagram membuktikan bahwa media sosial dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar yang efektif. Penyajian materi bahasa dengan pendekatan visual dan ringan dinilai mampu menarik minat Generasi Z untuk belajar tanpa merasa terbebani.

Sebagai pengguna aktif sekaligus kreator konten, Generasi Z memiliki peran strategis dalam menentukan arah perkembangan Bahasa Indonesia. Setiap konten yang diproduksi berpotensi membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat luas. Oleh karena itu, tanggung jawab kebahasaan tidak hanya berada di tangan institusi formal, tetapi juga pada individu pengguna media sosial.

Institusi pendidikan pun dituntut untuk merespons fenomena ini secara kontekstual. Pembelajaran bahasa yang mengaitkan media sosial dengan kaidah kebahasaan dinilai dapat membantu peserta didik memahami perbedaan bahasa formal dan informal secara nyata. Dengan pendekatan tersebut, teknologi digital dapat menjadi mitra pendidikan, bukan ancaman.

Perkembangan teknologi dan media sosial seperti Instagram merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Bahasa Indonesia akan terus berkembang seiring perubahan zaman.

Tantangan utamanya bukan membatasi kreativitas berbahasa Generasi Z, melainkan menumbuhkan kesadaran akan penggunaan bahasa yang tepat sesuai konteks. Dengan literasi digital yang baik, Bahasa Indonesia diharapkan tetap eksis sebagai bahasa nasional yang modern, adaptif, dan berwibawa di era digital. (*)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.