Samosir Go International: Tantangan Pariwisata, Peternakan-Pertanian Organik, dan Budaya - Jakarta Observer - Breaking News & Opinion

Samosir Go International: Tantangan Pariwisata, Peternakan-Pertanian Organik, dan Budaya

Samosir
Oleh Henry Sitanggang

MEMAKMURKAN masyarakat Pulau Samosir bisa dilakukan selain dari sektor pariwisata. Sebut saja untuk sektor peternakan, pertanian buah organik, dan kopi, hingga jasa dan produk seni budaya,  bisa menjadi andalan bagi masyarakat kabupaten yang dikelilingi Danau Toba ini untuk go international.

Selain itu, Samosir juga punya kekuatan lain yaitu para perantau yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia. Mereka ini bisa dimanfaatkan untuk memberikan ide, maupun  menerapkannya di Samosir.

Kita mulai darimana?

1. Buatlah Samosir Pusat Buah dan Pusat Ternak Organik

Alam ini ramah kok. Jika ditanam bunga maka lebah madu akan datang mencari nektar, dan tanaman jadi berbuah. Tentu harus ditata jumlah daun dan cabangnya agar sinar matahari tembus ke tanah. Jika tidak ditata maka bisa terjadi cuma daun yang tumbuh subur.

Misalnya buah mangga, kalau daunnya dan cabangnya tidak dibuang maka buahnya akan sedikit.

Menyuburkan tanah bisa degan pupuk ciptaan petani (organik) jangan gunakan pupuk kimia. Nanti Singapura tidak mau membeli buah dan sayur kita kalau diterapi pupuk kimia dan pestisida. Pestisida alamiah banyak, dan mudah menciptanya.

Banyak produk yang bisa dikembangkan di Samosir dan sekitarnya. Seperti saya katakan sebelumnya, dunia ini suka produk organik. Kita bisa lakukan itu. Produk berbasis kimia tidak baik bagi kesehatan jangka panjang.

Misalnya, sayuran yang disemprot degan pestisida bisa merusak DNA manusia. Susu sapipun jika rumputnya tercemar pestisida maka dapat merusak gen. Masuknya bisa lewat pakan konsentrat atau rumput yang terkontaminasi kimia.

Kotoran ternak jadi pupuk alam tinggal mengolah jadi kompos.Tanah bisa ditanam degan jenis rumput yang cocok untuk ternak. Ini simbiose mutuslistis.Selanjutnya tanam pohon juga ditumpang sarikan.

Pohon akan mengundang hujan sehingga mata air akan tumbuh. Eropa itu makan roti pakai selai kacang. Samosir bisa produksi selai kacang.

Kemudian soal ternaik organik ini, siapa tidak suka ayam goreng dan sop buntut? Jika ayam kita organik kita ekspor pasti laku. Ekspor gampang. Jika tidak mengerti banking dan L/C dan shipping, kami perantau dan bank juga pasti bisa tuntun. Jadi produk apapun yang bermutu dari kampung kita pasti bisa go international.

Contoh pinadar dan ayam rendang juga bisa go internatonal. Produk apapun pasti bisa dikembangkan dengan cara organik.

Namun begitu, last but not least, pemda harus punya team instruktur dan trainer pada tahap awal.

2. Tanah Berlereng Dibuat Terasering

Terasering akan menahan air gemburkan tanah. Jika tanah gembur maka alam semesta ini akan mengirim miliaran mikroorganisme dan cacing untuk menyuburkan tanah. Contoh IPB sudah memelihara mikroorganisme penyubur tanah.

Jika desa kita (Samosir) terkenal karena buah dan sayur organik dan ditopang dengan ramah tamah alamiah dan bersahaja dari masyarakat dan Danau Toba kita yang eksotik maka anak Samosir bisa maju.


3. Menggali Ilmu ke Mancanegara Pulang Jadi Pakar


Seperti saya katakan sebelumnya, Samosir punya para perantau yang tersebar di seluruh Indonesia hingga mancanegara. Mereka menimba ilmu dan menjadi tenaga pendidik, pengusaha, pejabat dan lainnya. Mereka menjadi sumber inspirasi untuk memajukan Samosir.

Namun upaya untuk menggali ilmu harus proaktif dilakukan baik oleh pemda, pengusaha maupun masyaakat asal Samosir. Bila perlu para pengusaha atau pejabat yang sukses menginisiasi untuk mengirimkan anak-anak Samosir belajar ke mancanegara dengan berbagai pilihan beasiswa. Nantinya mereka akan menjadi pakar yang bisa bekontribusi bagi pembangunan Samosir. Mereka juga bisa menjadi instruktur dan trainer yang bisa menularkan ilmunya ke orang lain.


4. Budaya

Inipun bisa kita ekspor, contohnya lagu batak dan fashion berbasis product local.Kita bisa buat kombinasi elok ulos dengan Levis. Manusia se-dunia ini pakai Levis. Kita bisa combine dengan motif ulos.

Turis mancanegara maupun lokal yang datang ke Samosir kita sambut dengan gondang sabangunan.

Tidak susah menjadikan desa kita maju.Yang susah adalah menghilangkan sifat sirik dengki dan irihati.

Turis pun akan betah di kampung kita because they find it so beautifull dan masyarakatnya ramah ditambah lagu lahu Bataknya yang keren.

Samosir can go international kalau kita semua anak Samosir mau. Kata kuncinya will we?

Horas, horas, horas! (*)


*) Penulis adalah lawyer, lulusan UGM 83



Diberdayakan oleh Blogger.