Anggota MPR Ingatkan Pentingnya Menjaga Keutuhan Bangsa dan Menghargai Keberagaman
Home / Terkini / Anggota MPR Ingatkan Pentingnya Menjaga Keutuhan Bangsa dan Menghargai Keberagaman

Anggota MPR Ingatkan Pentingnya Menjaga Keutuhan Bangsa dan Menghargai Keberagaman

Sosialisasi Empat Pilar MPR Senin (14/9/2026) di Maluku Utara.

HALMAHERA UTARA, Jakartaobserver.com- Pancasila khususnya sila ketiga Persatuan Indonesia menuntut setiap warga negara Indonesia untuk menjaga keutuhan bangsa, menghargai keberagaman, mengutamakan kepentingan bangsa dan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan ketika terjadi pertentangan kepentingan, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan bermusuhan.
 
”Implementasi ail INI dapat kita praktikkan di dalam keluarga, di sekolah, di tempat kerja atau dimanapun. Tidak membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras, atau daerah karena menimbulkan diskriminasi; menghina budaya daerah lain karena budaya berbeda adalah kekayaan Indonesia; atau menyebarkan kebencian dan hoaks yang memicu konflik,” kata anggota DPR/MPR Irine Yusiana Roba Putri.

Hal itu disampaikan anggota DPR dari daerah pemilihan (dapil) Maluku Utara ini saat melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR di Halmahera Utara, Maluku Utara, Senin (14/9/2026).

Di masyarakat, wujud implementasi sila ini juga dapat dilakukan melalui ikut gotong royong, membantu tetangga tanpa melihat latar belakang, menghormati kegiatan keagamaan dan budaya lain, serta menyelesaikan perselisihan melalui dialog.

Termasuk di media sosial. ”Kita harus menyaring sebelum membagikan, tidak menyebarkan berita belum terverifikasi, tidak menghina kelompok tertentu, tidak menyebarkan konten provokatif, dan berani berbeda pendapat tanpa menghina,” sambung Irine.

Diingatkan, persatuan bukan berarti seragam; orang Indonesia boleh berbeda agama, suku, bahasa, budaya, daerah, profesi, bahkan pendapat, yang penting perbedaan itu tidak menghilangkan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari bangsa dan negara yang sama yaitu Indonesia.

Irine menyoroti generasi muda yang menurutnya saat ini menghadapi tantangan persatuan yang juga semakin kompleks di ruang digital, selain dalam kehidupan sosial di dunia nyata. Mereka perlu tidak mudah terprovokasi, tidak menjadikan perbedaan pilihan politik sebagai permusuhan, bangga terhadap Indonesia tanpa merendahkan bangsa lain, mengembangkan prestasi, dan menjadi jembatan antarkelompok.

Demikian juga dengan guru. Menurut Irine, guru memiliki posisi strategis karena persatuan tidak cukup diajarkan melalui hafalan lima sila, melainkan melalui pembentukan pengalaman hidup bersama. Guru perlu mengajarkan bagaimana bersikap ketika teman berbeda agama, suku, daerah, kemampuan ekonomi, atau pendapat, serta menjadi teladan dalam toleransi dan keadilan.

Metode yang dapat dilakukan antara lain membuat proyek lintas keberagaman, mengajarkan penyelesaian konflik, dan mempraktikkan gotong royong. Orang tua juga berperan menanamkan cinta tanah air dan menghargai perbedaan sejak dini.

Dijelaskan, ada setidaknya lima prinsip yang dapat dijadikan pegangan dalam mewujudkan Persatuan Indonesia. Pertama, mengutamakan kepentingan bangsa dan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan ketika terjadi pertentangan kepentingan.

Kedua, menghargai perbedaan. Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan kemampuan hidup bersama di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, adat, budaya, pandangan politik, serta latar belakang sosial dan ekonomi. Ketiga, menolak diskriminasi. Persatuan sulit dibangun apabila sebagian warga merasa diperlakukan berbeda atau tidak dianggap sebagai bagian yang setara dari bangsa Indonesia.

Keempat, mengembangkan gotong royong. Gotong royong merupakan kerja bersama untuk mencapai tujuan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama dan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dilakukan sendiri. Kelima, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini merupakan komitmen untuk menjaga Indonesia sebagai satu bangsa dan satu negara dengan tetap menghargai keberagaman berdasarkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

”Dengan demikian, Persatuan Indonesia bukan berarti semua orang harus sama. Persatuan adalah kemampuan bangsa Indonesia untuk hidup bersama, saling menghargai, dan bekerja sama di tengah perbedaan demi kepentingan bangsa dan negara,” ujar Irine. (jo3)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.