100 Tahun Ali Sadikin, dan Nilai-nilai Kebebasan Berkarya
![]() |
| Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin |
Seperti sebelumnya dijelaskan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Miftahulloh Tamary, rangkaian peringatan 100 tahun Ali Sadikin akan dilaksanakan pada tanggal 7 hingga 14 Juli 2026.
Sejumlah kegiatan yang akan diselenggarakan di antaranya pameran arsip 100 tahun Ali Sadikin; workshop pembuatan film pendek Ali Sadikin; pembuatan mural Ali Sadikin; simposium budaya bahasa Betawi; pertunjukan tari, hingga soft launching buku biografi Ali Sadikin.
"Pada tanggal 14 Juli 2026 adalah Memorial Lecture Ali Sadikin dengan speaker Bapak Haji Fauzi Bowo dan soft launching buku biografi Ali Sadikin dan juga ada patung dada Ali Sadikin," lanjut Miftahulloh.
Selain dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012 Fauzi Bowo, acara peringatan ini juga turut dihadiri oleh keluarga Ali Sadikin.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat mengawali kegiatan ini Selasa (7/7/2026) mengungkapkan, Ali Sadikin tidak hanya meninggalkan legasi berupa pembangunan infrastruktur, melainkan juga kebudayaan Betawi yang harus diperkuat.
"Bagi saya pribadi sebenarnya bukan hanya hal yang bersifat fisik, tetapi karya paling utama beliau adalah bagaimana yang berkaitan dengan budaya, seni, yang salah satunya adalah di tempat ini," ujar Pramono.
Ia menyebut banyak peninggalan Gubernur Ali Sadikin di masa kepemimpinannya, seperti Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, dan Ragunan.
Pramono pun berkomitmen untuk melanjutkan dan merawat peninggalan-peninggalan Gubernur Ali Sadikin. Ia mencontohkan komitmen Pemprov DKI dalam menghidupkan kembali Planetarium.
Sebagai Gubernur Jakarta, Pramono juga menegaskan prioritasnya untuk melanjutkan berbagai proyek pembangunan pemerintahan sebelumnya yang belum tuntas.
"Yang tidak kalah pentingnya, hal yang menyangkut budaya yang betul-betul dicita-citakan oleh Bang Ali ini kami akan lanjutkan, termasuk revitalisasi Setu Babakan," lanjutnya.
Pemprov DKI, kata dia, akan menyelesaikan perbaikan jalan di Setu Babakan untuk menjaga budaya Betawi sebagai identitas Kota Jakarta.Pramono pun mengajak masyarakat Jakarta agar menjaga semangat Ali Sadikin dalam membangun Jakarta.
Sementara Fauzi Bowo pada Kamis (16/7/2026), menegaskan peran besar Ali Sadikin dalam meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan Jakarta dengan menempatkan seni sebagai hak publik yang sejajar dengan kesehatan dan pendidikan.
Foke juga mengusulkan agar Memorial Lecture menjadi agenda tahunan mulai tahun depan sebagai bagian dari rangkaian menuju peringatan 500 tahun Kota Jakarta. Menurutnya, Ali Sadikin bukan sekadar pemimpin daerah, tetapi seorang negarawan yang memiliki visi jauh ke depan dan diakui dunia.
Salah satu warisan terpenting Bang Ali, lanjut Foke, adalah keberaniannya menetapkan kebudayaan sebagai public good atau barang publik sejak 1968. "Kebudayaan ini utamanya adalah sebuah barang publik. Dia tidak harus mendatangkan keuntungan, tapi wajib ada," ujar Foke, Kamis (16/7).
Prinsip tersebut menjadi pijakan Ali Sadikin saat mendirikan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian Jakarta.Foke menceritakan, gagasan membangun TIM berawal dari pertanyaan sederhana Bang Ali kepada para seniman.
"Dulu itu di Senen seniman-seniman pada ngumpul, sekarang pada ngumpul di mana?" kata Foke menirukan ucapan Bang Ali.
Pertanyaan itu kemudian melahirkan gagasan menyediakan ruang bagi ekosistem seni di bekas kawasan Kebun Binatang Cikini.
Menurut Foke, bagi Ali Sadikin, membangun gedung saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah menjamin kebebasan para seniman untuk berkarya tanpa campur tangan pemerintah.
Ia pun mengutip salah satu pernyataan ikonik Bang Ali, "Pemerintah tidak boleh ikut campur dan menentukan. Biar para seniman itu sendiri, bebas. Mereka merdeka dalam mencipta".
Prinsip tersebut menjadikan TIM bukan sekadar kompleks pertunjukan seni, melainkan wujud tanggung jawab negara dalam menyediakan ruang kreativitas bagi masyarakat. Di tengah keterbatasan anggaran pada awal masa kepemimpinannya, Ali Sadikin membuktikan bahwa visi yang kuat mampu melahirkan pembangunan besar.
Foke menyebut, Bang Ali sebagai sosok yang selalu thinking out of the box, mulai dari menjadi pelopor penggunaan komputer di pemerintahan pada 1969 hingga menyusun master plan pembangunan Jakarta secara komprehensif.
"Beliau adalah seorang pribadi yang sangat kokoh akan keyakinannya. Kalau dia sudah yakin, dia akan mempertahankan itu dan konsisten mempertahankannya sampai kapan pun," kenang Foke.
Menurut Foke, gagasan Ali Sadikin tentang kemandirian seniman dan pelestarian warisan budaya (heritage) tetap relevan di era digital. Sebab itu, ia berharap, nilai-nilai kebebasan berkarya serta dukungan pemerintah terhadap kebudayaan terus dijaga sebagai warisan yang berkelanjutan.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Jakarta sebagai kota yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya.
"Saya yakin sampai sekarang tidak ada simbol yang lebih kuat untuk menggambarkan visi kebudayaan Bang Ali selain Taman Ismail Marzuki," tandasnya. (jo6)
"Pada tanggal 14 Juli 2026 adalah Memorial Lecture Ali Sadikin dengan speaker Bapak Haji Fauzi Bowo dan soft launching buku biografi Ali Sadikin dan juga ada patung dada Ali Sadikin," lanjut Miftahulloh.
Selain dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012 Fauzi Bowo, acara peringatan ini juga turut dihadiri oleh keluarga Ali Sadikin.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat mengawali kegiatan ini Selasa (7/7/2026) mengungkapkan, Ali Sadikin tidak hanya meninggalkan legasi berupa pembangunan infrastruktur, melainkan juga kebudayaan Betawi yang harus diperkuat.
"Bagi saya pribadi sebenarnya bukan hanya hal yang bersifat fisik, tetapi karya paling utama beliau adalah bagaimana yang berkaitan dengan budaya, seni, yang salah satunya adalah di tempat ini," ujar Pramono.
Ia menyebut banyak peninggalan Gubernur Ali Sadikin di masa kepemimpinannya, seperti Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, dan Ragunan.
Pramono pun berkomitmen untuk melanjutkan dan merawat peninggalan-peninggalan Gubernur Ali Sadikin. Ia mencontohkan komitmen Pemprov DKI dalam menghidupkan kembali Planetarium.
Sebagai Gubernur Jakarta, Pramono juga menegaskan prioritasnya untuk melanjutkan berbagai proyek pembangunan pemerintahan sebelumnya yang belum tuntas.
"Yang tidak kalah pentingnya, hal yang menyangkut budaya yang betul-betul dicita-citakan oleh Bang Ali ini kami akan lanjutkan, termasuk revitalisasi Setu Babakan," lanjutnya.
Pemprov DKI, kata dia, akan menyelesaikan perbaikan jalan di Setu Babakan untuk menjaga budaya Betawi sebagai identitas Kota Jakarta.Pramono pun mengajak masyarakat Jakarta agar menjaga semangat Ali Sadikin dalam membangun Jakarta.
Sementara Fauzi Bowo pada Kamis (16/7/2026), menegaskan peran besar Ali Sadikin dalam meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan Jakarta dengan menempatkan seni sebagai hak publik yang sejajar dengan kesehatan dan pendidikan.
Foke juga mengusulkan agar Memorial Lecture menjadi agenda tahunan mulai tahun depan sebagai bagian dari rangkaian menuju peringatan 500 tahun Kota Jakarta. Menurutnya, Ali Sadikin bukan sekadar pemimpin daerah, tetapi seorang negarawan yang memiliki visi jauh ke depan dan diakui dunia.
Salah satu warisan terpenting Bang Ali, lanjut Foke, adalah keberaniannya menetapkan kebudayaan sebagai public good atau barang publik sejak 1968. "Kebudayaan ini utamanya adalah sebuah barang publik. Dia tidak harus mendatangkan keuntungan, tapi wajib ada," ujar Foke, Kamis (16/7).
Prinsip tersebut menjadi pijakan Ali Sadikin saat mendirikan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian Jakarta.Foke menceritakan, gagasan membangun TIM berawal dari pertanyaan sederhana Bang Ali kepada para seniman.
"Dulu itu di Senen seniman-seniman pada ngumpul, sekarang pada ngumpul di mana?" kata Foke menirukan ucapan Bang Ali.
Pertanyaan itu kemudian melahirkan gagasan menyediakan ruang bagi ekosistem seni di bekas kawasan Kebun Binatang Cikini.
Menurut Foke, bagi Ali Sadikin, membangun gedung saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah menjamin kebebasan para seniman untuk berkarya tanpa campur tangan pemerintah.
Ia pun mengutip salah satu pernyataan ikonik Bang Ali, "Pemerintah tidak boleh ikut campur dan menentukan. Biar para seniman itu sendiri, bebas. Mereka merdeka dalam mencipta".
Prinsip tersebut menjadikan TIM bukan sekadar kompleks pertunjukan seni, melainkan wujud tanggung jawab negara dalam menyediakan ruang kreativitas bagi masyarakat. Di tengah keterbatasan anggaran pada awal masa kepemimpinannya, Ali Sadikin membuktikan bahwa visi yang kuat mampu melahirkan pembangunan besar.
Foke menyebut, Bang Ali sebagai sosok yang selalu thinking out of the box, mulai dari menjadi pelopor penggunaan komputer di pemerintahan pada 1969 hingga menyusun master plan pembangunan Jakarta secara komprehensif.
"Beliau adalah seorang pribadi yang sangat kokoh akan keyakinannya. Kalau dia sudah yakin, dia akan mempertahankan itu dan konsisten mempertahankannya sampai kapan pun," kenang Foke.
Menurut Foke, gagasan Ali Sadikin tentang kemandirian seniman dan pelestarian warisan budaya (heritage) tetap relevan di era digital. Sebab itu, ia berharap, nilai-nilai kebebasan berkarya serta dukungan pemerintah terhadap kebudayaan terus dijaga sebagai warisan yang berkelanjutan.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Jakarta sebagai kota yang maju tanpa meninggalkan akar budayanya.
"Saya yakin sampai sekarang tidak ada simbol yang lebih kuat untuk menggambarkan visi kebudayaan Bang Ali selain Taman Ismail Marzuki," tandasnya. (jo6)

Tidak ada komentar: