Pancasila Digali dari Kepribadian Indonesia yaitu Gotong Royong
![]() |
| Irine Yusiana Roba Putri di SDN Saluta, Kecamatan Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara (Malut), Senin (22/12/2025) siang. |
Bung Karno, menekankan nasionalisme yang humanis (internasionalisme), demokrasi perwakilan, ketuhanan yang berkebudayaan, dan kesejahteraan sosial.
Hal itu disampaikan Irine Yusiana Roba Putri selaku anggota DPR/MPR RI dari daerah pemilihan Maluku Utara (Malut) saat melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR di SDN Saluta, Kecamatan Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara (Malut), Senin (22/12/2025) siang.
”Pancasila sebagai philosophische grondslag atau dasar filsafat dan jiwa bangsa yang digali dari kepribadian Indonesia, yaitu gotong-royong,” ujar Irine.
Pancasila dirumuskan untuk menyatukan pluralitas bangsa Indonesia, yang jika diperas menjadi Trisila yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, Ketuhanan, dan akhirnya Ekasila yaitu gotong-royong.
” Gotong royong sebagai inti, Bung Karno menegaskan bahwa jika Pancasila diperas menjadi satu sila atau Ekasila, maka itu adalah gotong-royong—semangat kerja sama, solidaritas, dan kekeluargaan yang menjadi akar budaya Indonesia,” tegas Irine lagi.
Bung Karno memposisikan Pancasila sebagai fundamen, filsafat, dan pikiran sedalam-dalamnya untuk mendirikan gedung Indonesia Merdeka. Lima prinsip yang diusulkan adalah Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme (peri-kemanusiaan), Mufakat (demokrasi), Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang berkebudayaan.
Kemudian bagi Bung Karno, pilar kebangsaan (nasionalisme) Indonesia harus bersifat terbuka dan tidak chauvinistik. Nasionalisme harus tumbuh dalam "taman sarinya internasionalisme," di mana rasa cinta tanah air sejalan dengan semangat persaudaraan antar bangsa dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Meskipun istilah modern "Empat Pilar Kebangsaan" yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika secara resmi diperkenalkan oleh MPR RI di masa setelahnya, gagasan-gagasan dasarnya telah diletakkan oleh Bung Karno sebagai komitmen untuk mempertahankan keutuhan negara.
”Prinsip negara Bertuhan dan Ketuhanan Berkebudayaan sesungguhnya menjadi dasar moral bagi bangsa Indonesia, baik dalam hidup berkebangsaan mau pun dalam bernegara. Karena itu, ia harus tetap dijaga dan dikembangkan secara kreatif agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Irine.
Soekarno, menegaskan bahwa Pancasila memang digali dari kenyataan hidup masyarakat Indonesia. Artinya, ia berada dialam nyata dan senantiasa dapat dipergunakan sebagai acuan sekaligus parameter dalam penyelenggaraan kehidupan kebangsaaan dan kenegaraan. (jo3)

Tidak ada komentar: