Ingin Dorong Ekspor, Suyanto Usia 77 Tahun Tetap Eksis Berbisnis Kreatif Pengolahan Limbah Sabut Kelapa

Suyanto

MEDAN, JO- Usia senja tidak menyurutkan semangat Suyanto untuk terus bekerja dan kreatif. Berusia 77 tahun dan menjalani bisnis yang sama selama hampir 50 tahun tak juga membuatnya jenuh. 
 
"Usia saya sudah 77 tahun, saya menjalani bisnis kreatif pengolahan limbah sabut kelapa ini sudah hampir 50 tahun," demikian pernyataan Suyanto, ketika awak media menemui di rumah dan sekaligus tempat usahanya di Jalan Rumbia/ Jalan Lubuk Pakam - Batang Kuis, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), Senin (22/3/2021). 

Kakek 8 anak dan beberapa cucu ini tampak bersemangat dengan suara yang mantap dan cara berpikir penuh inovatif. 
 
Suyanto berkisah bisnis kreatif ini adalah diawali dengan peka terhadap suasana sekitar sehingga timbul ide. Keset kaki, tali, dan pas bunga menjadi produk andalan mereka dan cukup laris di pasaran, yang muncul dari kondisi sekitar. Sebut saja soal pas bunga, ternyata lahir dari kondisi pandemi. 

"Untuk pas bunga ini adalah idea kreatifitas saya semenjak pandemi korona ini, dimana banyak ibu-ibu menjadi hobi menanam bunga," ujar Suyanto dengan bangga. 

Tidak heran bisnis Suyanto terus berkembang dulu. Sebelum pandemi Covid19 dia mempunyai 40 karyawan untuk mengolah sabut kelapa, bahkan produk kreatifnya ini sudah diekspor pula ke luar negeri. Namun kini, akibat krisis yang melanda, usahanya hanya tinggal 12 karyawan. 
 
"Sebelum pandemi Covid19 penjualan saya sampai ke luar negeri, saya jual ke RRT dan Jepang yang jumlahnya mau sampai dua kontainer sebulan," ujar Suyanto mengenang. 

Meski krisis melanda, Suyanto tidak menyerah. Dengan susah payah tetap bertahan di zaman pandemi korona ini. Dia masih bisa bertahan dengan omzet rata rata Rp15 juta sebulan.

Karena keterbatasan yang ada saat ini, Suyanto hanya bergantung orang yang datang ke rumahnya. Dengan harga yang cukup kompetitif Suyanto memberi harga pot bunga dari Rp15.000 sampai dengan Rp20.000 dan keset Rp15.000 sedangkan tali Rp25.000/kg. 

Harapan Suyanto bisnis pengolahan limbah ini makin banyak lagi, karena sesungguhnya bisnis ini sangat diminati di luar negeri  sehingga membantu pemerintah dalam menambah devisa negara. Pengolahan limbah sabut kelapa juga merupakan sangat padat karya sehingga juga dapat mengurangi pengangguran ataupun menambah penghasilan keluarga.

Dia berharap pemerintah melalui kementerian  terkait maupun pihak universitas membantu baik di bidang pemasaran, dan pembiayaan, menemukan teknologi yang tepat guna dalam pengolahnya khususnya untuk pengeringan sabut kelapa dan lainnya.

Dalam pemasaran, menurut Suyanto, peran serta pemerintah dapat membantu memasarkanya ke luar negeri  dan dalam negeri, atau dalam konteks parawisata dan industri kreatif karena industri ini masuk dalam industri seni kerajinan.

Suyanto juga berharap adanya pembiayaan khusus baik dalam hal jaminan maupun suku bunga untuk UMKM yang mengelolah limbah atau barang tak berharga jadi bernilai rupiah. (jomd 07)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.