Arkeolog Jangan Jadi Penonton Saat Ada Klaim “Borobudur dari Zaman Sulaiman” - Jakarta Observer - Breaking News & Opinion
Dr Supratikno Rahardjo
JAKARTA, JO - Para arkeolog diminta untuk jangan hanya menjadi penonton ketika ada pihak yang menyampaikan interpretasi yang bukan kebenaran terkait heritage (warisan) budaya Indonesia. Arkeolog harus meluruskan informasi yang tidak benar, dan mendorong heritage memberikan kelestarian keanakeragaman budaya Indonesia.

Hal itu disampaikan pakar arkeologi Universitas Indonesia (UI) Dr Supratikno Rahardjo dalam Webinar "Interprestasi Cagar Budaya untuk Melestarikan Keanekaragaman Budaya Indonesia" Sabtu (29/8/2020) Pukul 10.00 sampai 12.00 WIB yang diadakan Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) dan Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK), Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Selain Supratikno tampil nara sumber lain ahli pariwisata Ratna Suranti, SS, MA; ahli perancang interpreter Ir Wiwien T Wiyonoputri, MT dengan moderator Dr Dyah Chitraria Liestyati. Hadir juga secara virtual Ketua IAAI periode 2017-2020 Dr Wiwin Djuwita, dan Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (Dir PTLK) Judi Wahjudin, MHum membuka webinar.

“Kita semua adalah arkeolog, Anda harus bermain di sana jangan hanya jadi penonton ketika ada yang menyebut di Youtube atau medsos bahwa Borobudur itu dari zaman Nabi Sulaiman, atau Majapahit merupakan kesultanan Islam, atau Sriwijaya hanya imaginasi. Selama ini kita tidak mengimbangi jika muncul interpretasi semacam itu, ” kata Dr Supratikno Rahardjo dalam Webinar yang diikuti lebih dari 160 orang peserta.




Menurutnya, saat ini siapapun boleh untuk menyatakan apa saja di media sosial, karena masing masing memiliki kepentingannya yang bukan kebenaran tapi popularitas dan kemungkinan juga finasial. Hebatnya, pandangan dari penulis seperti ini mendapat jutaan respon dari nitizen. Jauh lebih banyak daripada tulisan arkeolog.

“Orang awam suka sekali seperti itu, hal yang kontroversial sekarang laku sekali, bahkan dijadikan paket wisata ke Borobudur. Saya tidak tahu bagaimana dia menjelaskan satu persatu dengan Nabi Sulaiman, tapi banyak ibu ibu yang ikut paket wisata. Jadi kita berpretensi untuk meluruskan itu tidak benar. Tantangannya bagaimana kita menjalaskan dengan c ara yang menarik. Selama ini kta tidak punya ilmu komunikasi yang menyampaikan dengan cara bagus,” sambungnya.

Ratna Suranti, SS, MA menyebut setiap tahun Indonesia mengikuti minimal 80 pameran pariwisata di berbagai negara. Dari pengamatan Ratna, semua tourism management company (TMC) mempromosikan Bali, dan jikapun ada disebut tinggalan arkeologi lain sebagai warisan budaya Indonesia, itu hanya Borobudur dan Prambanan. “Ini yang sering mengganggu saya dan selalu saya tanyakan apakah mereka punya paket lain, sebab 60 persen wisatawan ke Indonesia itu terkait budaya,” katanya.


Menurutnya, UU Kepariwisataan menegaskan bahwa setiap wisatawan harus mendapatkan informasi yang akurat. Itu sebabnya setiap usaha pariwisata wajib memberikan pelatihan kepada pegawai atau karyawannya, dan arkeolog yang ada di IAAI harus membuat teknik atau modul mengenai interpretasi cagar budaya, dan siap untuk memberikan pelatihan kepada pemandu wisata.

“Sebab selama ini pemandu wisata itu cenderung mencari informasi sendiri. Padahal dari pengakuan mereka kalaupun berbayar mereka mau membayar kalau diberikan pelatihan. Bayangkan ada yang mengatakan Candi Muara Jambi abad 4 dan pemandu wisata menyebut tidak ada Borobudur kalau tidak ada Candi Muara Jambi. Coba ini informasinya dari mana?” tanya Ratna Suranti.

Sedangkan Ir Wiwien T Wiyonoputri, MT menjelskan pentingnya interpretasi cagar budaya untuk membangun antara lain intelektual dan emosional dari pengunjung. “Ada pencerahan dan kebijaksanaan, ada wawasan setelah diprovokasi oleh cerita itu. Kita berharap kekaguman, kekagetan, kemarahan, kesedihan, keprihatianan, dan lainnya ketika kita merencanakan narasi interprestasi.”

Ketika sudah ada pemahaman di hati maka akan tercipta apresiasi, lalu rasa sayang dan ingin melindungi warisan budaya itu. Orang orang menjadi paham apa makna dari cagar budaya atau warisan budaya. Penyajiannya bisa secara personal oleh petugas, dan bukan personal yaitu melalui media ilustrasi dan lainnya.

“Misalnya peran Suku Bajo dalam ekonomi regional digambarkan dengan pertunjukan boneka, atau seperti remaja masjid Pulau Penyengat bagaimana masjid ini menunjukkan keterbukaan di masa lalu dan kepercayaan diri di masa lalu dalam hubungan internasional,” ucap Wiwien. (jo3)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.