Ads Top

Dua Kapal Destroyer AS dalam Posisi Siap Serang Suriah, Putin Ogah Telepon Trump

Donald Trump dan Vladimir Putin.
JAKARTA, JO- Dua kapal perusak (destroyers) milik Angkatan Laut AS yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Tomahawk saat ini sudah dalam posisi dan siap untuk melakukan serangan dengan target tertentu di Suriah. Selain itu jet dan kapal selam pun disiagakan sewaktu-waktu Presiden AS Donald Trum memerintahkan dimulainya serangan militer.

Pada Rabu waktu setempat, Trump melalui akun twitternya mengatakan "rudal yang bagus, baru dan pintar akan segera ditembakkan ke Suriah", sebuah pengymuman yang datang sebelum tercapainya kesepakatan antara sekutu AS.

Para pejabat militer AS berkumpul di Gedung Putih pada Rabu sore untuk membahas opsi untuk Suriah, menurut pembantu senior, seperti dikutip cnn.com, sebagai reaksi atas dugaan serangan kimia yang terjadi akhir pekan lalu di Suriah.

Sekretaris pers Gedung Putih Sarah Sanders menegaskan serangan rudal tetap menjadi opsi diantara opsi yang ada.

Kapal perusak USS Nitze beroperasi di Laut Mediterania dalam posisi untuk melakukan pemogokan di Suriah, kata para pejabat.




Menteri Pertahanan James Mattis mengatakan militer AS sedang bersiap-siap jika Trump memberikan perintah."Kami siap memberikan opsi militer jika Presiden memerintahkannya," katanya.

Rusia dan Suriah dengan cepat menanggapi ancaman Trump ini. Kementerian Luar Negeri Suriah mengatakan tidak terkejut oleh "eskalasi nekat" AS melalui tweet-tweet Trump, kantor berita yang dikelola negara SANA melaporkan, sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan dalam posting Facebook bahwa "rudal cerdas harus diarahkan ke arah teroris, bukan ke pemerintah legal yang telah memerangi terorisme internasional selama beberapa tahun di wilayahnya."

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pada hari Rabu bahwa Rusia berharap semua pihak yang terlibat di Suriah akan menghindari langkah apa pun yang dapat "secara signifikan mengguncang" suatu "situasi yang rapuh".

Peskov menambahkan tidak ada rencana bagi Putin untuk menelepon Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron atau Perdana Menteri Inggris Theresa May di tengah krisis yang sedang terjadi. (jo-4)

Diberdayakan oleh Blogger.