Wonderful Indonesia
JAKARTA, JO- Kalangan pengamat meminta anggota Komisi X DPR RI untuk mempertanyakan efektifitas iklan pariwisata Indonesia di luar negeri yang menghabiskan anggaran triliunan rupiah, termasuk transparansi dalam penggunaannya.

Hal itu antara lain disampaikan pengamat pariwisata Jones Sirait di Jakarta, Sabtu (19/3), terkait kegiatan pemasaran pariwisata Indonesia di mancanegara yang lebih banyak menggunakan pendekatan periklanan, menyusul kenaikan anggaran pariwisata tahun anggaran 2016 yang mencapai Rp5,4 triliun.

“Anggaran yang digunakan itu demikian besar, bahkan bisa disebut rekor baru dalam kegiatan pemasaran pariwisata dari yang pernah ada sebelumnya. Harus diawasi, dicereweti, sebab itu dana rakyat jangan sampai dihambur-hamburkan tidak jelas,” kata Jones Sirait.

Pengawasan ini perlu diperketat bercermin dari pengalaman tahun 2015 sebelumnya, yang sudah menghabiskan sekitar Rp3,9 triliun namun kunjungan wisman yang diraih tidak melonjak seperti yang diduga, tapi hanya 10 juta wisman.

“Anggaran Kemenpar itu meningkat dari Rp3,9 triliun tahun 2015 menjadi Rp5,4 triliun tahun 2016, artinya ada kenaikan yang cukup signifikan di pagu definitif, dengan pos terbesar hampir Rp3 triliun untuk pengembangan pemasaran pariwisata mancanegara dan sekitar Rp1 triliun untuk pemasaran dalam negeri,” kata Jones Sirait.

Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata (PAIP) ini melihat ada tendensi Menteri Pariwisata Arief Yahya hanya mengulangi kebiasaan lama di kementeriannya yang hanya mengejar target pemuatan iklan yang dianggap lebih mudah daripada mengejar target kunjungan.

Padahal sebagai orang bisnis dan juga profesional dia sangat memahami setiap anggaran pemasaran yang dikeluarkan harus bisa dipertanggung jawabkan atau berimpak pada penjualan dan lainnya.

“Saya kuatir mereka kembali  ke penyakit lama yaitu yang penting banyak iklan tak perduli hasilnya. Padahal dia tahu pemasaran itu bukan hanya iklan yang berbiaya sangat besar. Harusnya, Kemenpar evaluasi dulu kegiatan iklan di 2015, cari tahu mengapa tidak terlalu signifikan, mungkin metodenya keliru atau negara targetnya tidak tepat,” sambung dia.

Menurut Jones, DPR juga harus bisa memastikanbelanja iklan itu apakah sudah sesuai dengan prinsip-prinsip transparansi, serta mewanti-wanti mengenai target 2 juta kunjungan baru untuk tahun 2016 sehingga pada akhir 2016 bisa tercapai minimal 12 juta wisman.

“Iklan itu harus bisa mendorong ke sales, bukan sekadar memperkenalkan atau agar masyarakat dunia tahu atau aware. Itu pekerjaan besarnya, jika tidak mendorong ke sales atau kunjungan itu berarti ada yang salah,” ucapnya.

Selain itu, Jones juga menyebut DPR harus segera meminta kepada Kementerian Pariwisata mengenai metodologi penghitungan statistik kunjungan wisatawan baik mancanegara dan wisatawan nusantara.

“Saya kira DPR harus membuat rapat khusus yang menghadirkan sejumlah institusi sekaligus yakni Kemenpar, BPS, Kementerian Perhubungan, dan Imigrasi. Mereka itu saling terkait dan punya data-data masing-masing. Coba kita cocokkan mana yang benar datanya,” kata Jones lagi.

Menpar Arief Yahya menjelaskan sebelumnya, iklan pariwisata Indonesia telah dan akan terus ditayangkan di berbagai media global antara lain: Discovery Channel, Travel and Living Channel, Asian Food Channel, Fox International, Channel News Asia, CNBC, CNN International, BBC World, Sport Channels.

Lalu televisi yang berbahasa mandarin, CCTV 1, CCTV 2, CCTV 7, dan CCTV 10. Singapura di Channel 5, Channel 8, Channel U. Di Malaysia melalui channel Astro TV dan TV3 Malaysia. Di Australia, National Geographic Australia, FX Australia, Channel 7 dan Channel 9. Di Jepang, TBS, TV Asahi Channel 1, di Korea di MBN dan MBS, di Timur Tengah ada Al Jazeera. (jo-2)


Sebelum ke Yogyakarta, Cek Dulu Tarif Hotel dan Ulasannya Ke Bandung? Cek Dulu Hotel, Tarif dan Ulasannya Disini Cek hotel di Lombok, bandingkan harga dan baca ulasannya Liburan ke Surabaya? Cari hotel, bandingkan tarif dan baca ulasannya Cek hotel di Parapat, Danau Toba, bandingkan harga dan baca ulasannya
Diberdayakan oleh Blogger.