Teliti Lanskap Arkeologi Pertanian Jawa Kuno, Taqyuddin Raih Doktor Arkeologi UI

Dr Taqyuddin
DEPOK, JO- Taqyuddin meraih gelar doktor di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul "Rekonstruksi Lanskap Arkeologi Pertanian (Abad 8-11), dalam sidang terbuka yang berlangsung di  Auditorium Gedung IV FIB, kampus UI Depok, Selasa (4/7/2017).

Dalam penelitiannya, Taqyuddin meneliti pertanian pada era Jawa Kuno yang menurutnya ada pengetahuan lokal (local knowledge) dan kearifan lokal (local wisdom)yang bisa bermanfaat untuk mengembangkan pertanian pada masa kini, termasuk pemanfaatan daerah aliran sungai, penentuan wilayah pertanian dan lainnya.

Tampil sebagai penguji  adalah Dr Ninny Soesanti Tedjowasono, MHum yang juga sebagai promotor; Dr Heriyanti Ongkodharma, MSi (kopromotor), kemudian Prof Dr Noerhadi Magetsari, Prof Dr Agus Arismunandar, MHum, Prof Raldi Koestoer, Dr Isman Pratama Nasution, Dr Kresno Yulianto, Mhum, dan Dr Ali Akbar, MHum.

Penelitian ini menggunakan pendekatan keruangan (geografis) yang divisualisasikan melalui gambar peta, yang menjdi acuan referensi geografis dalam melakukan plotting objek atau data lokasional toponimi yang ditemukan dalam isi prasasti, dan tempat yang disebutkan dalam isi prasasti.

Dalam disertasinya, Taqyuddin yang juga staf pengajar di Departemen Geografi, FMIPA UI ini mengatakan, rekonstruksi budaya masyarakat Jawa kuno di Jawa bagian tengah dan Jaa bagian timur abad ke-8 sampai 11 masehi dapat dipahami melalui keberadaan lokasional prasasti yang tidak dapat dipisahkan dengan candi dan lingkungan alamnya.

Bukti keberadaan Borobudur, Prambanan dan Candi Sewu yang ada di Jawa bagian tengah pada masa Jawa Kuno menunjukkan keagungan dan pengalaman serta kemajuan teknologi (khususnya arsitektural besar) yang sudah dimiliki oleh masyarakat Jawa bagian tengah. Seiring dengan pengetaguan dan pengalamannya dalam pengolahan tanah yang ditunjukkan dengan keberadaan tata aturan beserta pengangkatan pejabat atas nama kerajaan yang ditaati oleh masyarakat.

Dalam pemenuhan kebutuhan pangannya, terjadi perpindahan pemusatan pengelolaan lahan di Jawa bagian tengah ke bagian timur Pulau Jawa. Keterbatasan sumberdaya alam di Jawa bagian tengah tersebut yaitu kedekatan keberadaan gunung api muda, lembah dataran yang relatif sempit dan berbukit hingga bergunung dan sumber daya aur yang mengandalkan pengairan alami dari sungai-sungai terjal hingga curam, meskipun pada akhir masa keberadaan di Jawa bagian tengah berpindah ke wilayah tenggara yang memiliki daratan datar yang lebih luas.

Masih menurut Taqy, pengetahuan dan pengalaman masyarakat Jawa kuno, selain kehidupan berciri atau berorientasi pengelolaan dan pemanfaatan daratan dan air tawar, juga memiliki pengalaman dan pengetahuan peningkatan penerapan teknologi pertanian masa Jawa kuno.

“Teknologi yang dahulu diterapkan di daratan di Jawa bagian tengah kemudian berkembang menjadi teknologi pertanian yang memanfaatkan daratan, lahan rawa sungai, pesisir, dan laut (Selat Madura. Masa akhir pemerintahan Airlangga atau akhir Kerajaan Mataram Kuno) pengelolaan lahan pesisr dan laut mulai dijumpai,” katanya.

Hasil penelitian ini juga memberikan petunjuk jelas bahwa pertanian Jawa kuno, di Jawa bagian tengah yang awalnya hanya bergantung pada pertanian adaptif, kemudian berkembang menjadi lebih maju dengan meningkatnya penerapan pengetahuan dan pengalaman manusia Jawa kuni dalam mengolah dan memanfaatkan tempat (place) untuk keberlangsungan kehidupannya yang ditopang ekonomi pertanian dalam mewujudkan keberlangsungan kerajaan-kerajaan selanjutnya.




Dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya daratan dan air sangat dipengaruhi oleh ajaran Hindu Buddha yang diterapkan oleh raja yang berkuasa kepada masyarakatnya. Pola pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya daratan selalu dikaitkan dengan berdirinya candi, keberadaan sumber daya air terutama sungai pada bentang alam dengan keberadaan gunung api muda yang tinggi.

“Ruang yang dikelola dan dimanfaatkan meliputi bentang dari puncak gunung, lereng dengan lembah-lembah sungai dan kaki-kaki gunung hingga dataran rendah. Konteks penataan struktur ruangmasa Jawa kuno diilhami dari struktur kehidupan berdasarkan pendekatan cognitive place, Triloka yang diketengahkan Agus Aris Munandar, dan sebenarnya bersesuaian dengan pola pemanfaatan ruang yang disebut dalam skema pemanfatan ruang yang disampaikan I Made Sandi,” kata Taqy lagi.

Taqy juga menegaskan bahwa budaya pertanian sawah sudah terbentuk era Jawa kuno, dan pengalaman dan pengetahuan tersebut sebagai local knowledge masyarakat Jawa kuno yang dapat direplikasikan atau diteladani kehidupan pertanian yang memanfaatkan daerah aliran sungai seperti DAS Brantas.

Nilai budaya masa Jawa kuno yang dapat dijadikan kearifan lokal (local wisdom) yaitu, kemampuan mereka menempati ruang muka bumi untuk mendukung kehidupan masyarakatnya pada daerah aliran sungai yang luas, pola jaringan sungai dendritik, panjang dan luas (seperti tulang daun), memiliki pegunungan api yang tinggi dengan lereng dan kaki gunung yang topografi dataran rendahnya luas, curah hujan yang sedang, sebagai lokasi budaya pertaniian serta memanfaatkan sungai sebagai akses ke laaut.

“Nilai-nilai lanskap arkeologi pertanian juga dapat dijadikan refleksi dalam penentuan wilayah pertanian, raja atau pemimpin terlibat dalam pengelolaan bersama pejabatnya. Wilayah tersebut dapat memberikan daya dukung kehidupan yang lebih berlanjut lebih kreatif meningkatkan penerapan teknologi pengolahan tanah serta tetap dilandasi norma-norma, seperti implementasi Triloka dalam arahan pemanfaatan lahan,” sambungnya.

Menurut Taqy, masyarakat Jawa kuno telah memiliki local wisdom menentukan hari baik dan waktu baik untuk melakukan sesuatu. Penurunan maklumat rata-rata diatur secara tepat sampai ke unsur penanggalan terkecil yaitu Muhurrta. Di tingkat desa disebut mengenai adanya seorang pejabat desa yang penting bernama Wariga yang tugasnya menentukan hari baik dan waktu yang tepat untuk melakukan suatu pekerjaan, misalnya menetapkan waktu tanam padi, hari pasaran. (jo-2)

Sebelum ke Yogyakarta, Cek Dulu Tarif Hotel dan Ulasannya
Ke Bandung? Cek Dulu Hotel, Tarif dan Ulasannya Disini
Cek hotel di Lombok, bandingkan harga dan baca ulasannya
Liburan ke Surabaya? Cari hotel, bandingkan tarif dan baca ulasannya
Cek hotel di Parapat, Danau Toba, bandingkan harga dan baca ulasannya
Bengkulu yang Sedang Bersinar, Cek hotel dan baca ulasannya




Diberdayakan oleh Blogger.