Kisah Haru Korban KM Sinar Bangun, Berusaha Selamatkan Dua Saudarinya, Kaki Ditarik dari Bawah - Jakarta Observer - Breaking News & Opinion

Ads Top

Kisah Haru Korban KM Sinar Bangun, Berusaha Selamatkan Dua Saudarinya, Kaki Ditarik dari Bawah

Jamuda Sinaga, 17, salah seorang saksi selamat tenggelamnya KM Sinar Bangun.
SIMANINDO, JO- Seorang saksi selamat kapal tenggelam di Danau Toba mengisahkan detik-detik kejadian ketika KM Sinar Bangun tenggelam. Kisah heroisme berbalut kesedihan bercampur menjadi satu.

Seperti yang dialami Jamuda Sinaga, 17, salah seorang saksi, yang ditemui di Simanindo, Samosir, Rabu (20/6/2018). Dalam tragedi ini dia kehilangan lima temannya yang baru saja pulang dari berwisata dari Pulau Samosir.

Jamuda, yang masih duduk di kelas II SMA dan berasal dari Dusun Sibunga-bunga, Kecamatan Dolok Pardamen, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) ini berkisah, saat kapal terbalik, dirinya dan para penumpang lain tercebur ke air danau. Saat itu dirinya berusaha keras untuk menolong dua orang saudarinya yang juga masih mengambang.

"Waktu itu aku berusaha menolong dua itoku, dan aku masih terus memegang mereka berdua mengambang di air. Tapi tiba-tiba kakiku ditarik dari bawah sehingga aku ikut tenggelam beberapa saat. Aku coba melepaskan diri dan naik ke atas. Saat itulah aku tidak melihat lagi dua itoku itu," kata Jamuda dengan raut sedih.

KM Sinar Bangun tenggelam seikitar pukul 17.00 WIB saat dalam perjalanan dari Pelabuhan Simanindo di Kabupaten Samosir menuju Pelabuhan Tigaras, Simalungun. Sejauh ini hanya ada 18 orang yang selamat, dan ratusan orang masih hilang.

Jamuda berkiah, pada Senin (18/6/2018) itu, dia naik KM Sinar Bangun bersama lima orang temannya. Dia bersama rombongannya membawa tiga sepeda motor, yang juga ikut tenggelam bersama tenggelamnya kapal naas itu.

"Awalnya kami pulang dari Tomok pergi ke Pasir Putih, ada satu kereta (sepeda motor) kawanku yang rusak lalu kami perbaiki dulu di bengkel, setelah itu kami ke Pelabuhan Sinanindo," ucap Jamuda.

Di Pelabuhan Simanindo, dia dan rombonganny sangat lama menunggu kapal namun belum datang-datang. Setelah datang, kernet kapal mengabarkan bahwa dari tiga sepeda motor rombongannya hanya dua yang bisa masuk ke kapal, namun entah kenapa kemudian satu sepeda motor temannya itu dipaksakan masuk bersama puluhan sepeda motor lainnya.

Kejadian malang pun terjadi ketika kapal berada persis di antara perairan Simanindo dengan Tigaras. Kapal tiba-tiba oleng ke kanan, dan cuaca ketika itu kurang bersahabat karena angin kencang dan ombak besar.




Masih kata Jamuda, saat kapal mulai oleng ke kanan, sang nakhoda kapal sempat berusaha untuk membanting posisi arah kapal ke kiri untuk menahan ombak tapi sepertinya percuma. Kapal yang kemungkinan berat ke kanan karena posisi sepeda motor banyak di badan kapal sebelah kanan, tiba-tiba terbalik, dan menimbulkan kepanikan luar biasa dari para penumpang.

"Waktu kapal terbalik aku ditarik ke bawah air, dan sempat terjepit kereta (sepeda motor-Red) yang datang dari atas, dan aku berusaha untuk melepaskan diri mengikuti cahaya dari atas," sambung dia menyebut bahwa saat kapal tenggelam sempat muncul lagi ke permukaan untuk beberapa saat untuk selanjutnya tidak terlihat lagi.

Saat kalut seperti itu, penumpang pun berjatuhan ke air danau, termasuk lima temannya satu rombongan. Awalnya tiga temannya dicoba ditolong Jamuda dengan menarik mereka satu per satu ke badan kapal yang terbalik namun masih mengambang. Tapi sayangnya, hanya beberapa saat kemudian kapal yang sebelumnya mengangkut banyak sepeda motor dan lebih seratusan penumpang itu tenggelam.

"Tiga kawanku sudah aku bantu ke kapal, tapi kapal kemudian tenggelam dan mereka tidak kelihatan lagi, lalu kemudian itoku yang dua itu aku tolong lagi, dan itu tadi tiba-tiba ada orang yang menarik kakiku dari bawah sampai aku ikut juga tenggelam tapi berusaha untuk naik lagi," sambung Josua menambahkan dari lima orang itu dia tidak mendengar lagi kabar kelima temannya itu.

Setelah itu, diapun berusaha untuk berenang sampai kemudian melihat kapal datang dari arah Simanindo. "Setelah dekat kapal itu pelampung dilempar dan aku diselamatkan. Yang mengejar feri saat itu tiga orang termasuk aku. Aku yang pertama diselamatkan," katanya.

Ia pun mengaku masih trauma berat dengan kejadian ini. "Aku trauma," sambung dia. (tim)

Diberdayakan oleh Blogger.