Anggarannya Rp2,3 Miliar, Kapal Wisata Milik Dispar Samosir Dituding Asal Jadi

Ini dia penampakan kapal Dispar Samosir yang biayanya Rp2,3 miliar.
SAMOSIR, JO- Kalangan masyarakat Samosir menyampaikan kritik keras terhadap pengadaan kapal wisata milik Dinas Pariwisata (Dispar) Samosir yang menurut mereka dikerjakan asal jadi, tidak sebanding dengan biaya pengadaannya yang cukup besar Rp2,3 miliar.

Seperti disampaikan Sintua Sidabutar, salah seorang tokoh masyarakat Desa Parsaoran, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Senin (30/10/2017), dengan cara pembuatan yang asal-asalan seperti yang dilakukan saat ini, pengadaan ini hanya menguntungkan beberapa pihak saja.

“Dispar Samosir seharusnya mengkaji ulang biaya pengadaan kapal wisata ini yang sampai Rp2,3 miliar,” kata Sintua Sidabutar saat ditemui di rumahnya.

Menurutnya, dengan anggaran sebesar itu, mestinya bisa dibuat dua kapal wisata bukan hanya satu. Dia pun membandingkan pembuatan kapal wisata ini tidak berbeda jauh dengan kapal yang dinilainya cukup mewah di Tomok ini seperti KM Dosroha.

“KM Dosroha itu biaya pembuatannya hanya sekitar Rp1 miliar. Jadi kalau ada anggaran Rp2,3 miliar, tentunya sudah bisa membuat dua kapal yang cukup mewah,” sambung Sintua seraya menyebut Dispar Samosir mempercayakan kepada CV Sumber Rejeki sebagai kontraktor pembuatan kapal.

Hotel Paling Romantis. Berapa Sih Tarifnya!! Hemat 25% untuk Setiap Hotel Tempat Anda Menginap & Baca Ulasannya
Cari Tahu Tarif Hotel Terkini di Medan
Cari Tahu Tarif Hotel Terkini di Palembang

Selain dinilai terlalu mahal, kapal milik Dispar Samosir ini pun disebut-sebut tidak sesuai standard. Hal itu diakui Holmes Sirait, salah seorang tukang yang sudah sangat berpengalaman dalam pembuatan kapal di Danau Toba.

Saat ditemui di lokasi pembuatan kapal wisata di Huta Sitio, Desa Tomok Parsaoran, Holmes mengatakan, kapal yang dikerjakan CV Sumber Rejeki ini memiliki “gading-gading” (rangka) yang semuanya disambung-sambung, begitupun dengan “panopar”nya dinilai terlalu kecil.

“Gading-gadingnya semua disambung-sambung dan panoparnya terlalu kecil, jelas tidak sesuai dengan apa yang saya ketahui dan yang saya kerjakan selama ini sebagai tukang kapal,” ucap Holmes.

Tak hanya itu, menurut Holmes lagi, tiang kayu yang menjadi tiang “rumah Batak”-nya juga tidak lurus kemungkinan tidak ditarik benang sebagai garis lurusnya sewaktu dipasang. Terlihat papan gorga hanya ditopang menggunakan baut dan tidak menempel ketiang kayu “rumah batak”-nya.

“Dengan kondisi perairan Danau Toba yang cenderung berombak besar dan berangin kencang sudah pasti baut ini tidak akan sanggup menahan papan gorga tersebut, sehingga saya jamin umurnya tidak akan lama,” sebutnya.

Selain itu, ditemukan papan yang sudah lapuk (busuk) namun tetap dipakai sebagai lantai kapal. Ketika dicoba untuk dikonfirmasi, tak satupun dari pihak kontraktor yang berada di lapangan yang bersedia diwawancarai soal kapal wisata ini. (jab siagian)



Diberdayakan oleh Blogger.