Dinas Kesehatan DKI Sudah Cabut Izin Klinik Metropole - Jakarta Observer - Breaking News & Opinion

Ads Top

Dinas Kesehatan DKI Sudah Cabut Izin Klinik Metropole

Hasil pemeriksaan laboratorium seorang pasien.
JAKARTA, JO- Kepada Dinas Kesehatan DKIJakarta Dien Emmawati menyebut sudah mencabut izin usaha Klinik Metropole yang beralamat di Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat (Jakbar).

Hal itu dilakukan setelah diketahui pengelola klinik ini melakukan penyalahgunaan. "Benar izin usahanya sudah dicabut pada akhir Agustus 2014. Izinnya dicabut dan pemiliknya diberikan surat pencabutan," kata Dien Emmawati di Jakarta, kemarin.

Dikatakan, ada dua penyalahgunaan izin yang dilakukan pengelola klinik yang tepatnya berloaksi di Jalan Pintu Besar Selatan No38 RT 012 RW 05, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakbar itu.

Pada sekitar Juni 2014, Suku Dinas Kesehatan Jakbar memberikan izin untuk Klinik Metropole kategori izin praktik pratama. Yang diperbolehkan praktik hanya dokter umum dan dokter gigi saja.

Namun, pengelola Klinik Metropole membuka rawat inap yang sebetulnya tidak boleh dilakukan oleh klinik yang masuk kategori klinik pratama. "Kalau mau buka rawat inap izinnya bukan klinik pratama, tapi klinik utama," ujar Dien.

Cek Hotel di Jakarta, Bandingkan Tarifnya | Cek Hotel di Parapat, Danau Toba, Bandingkan Harga dan Baca Ulasannya | Cek Hotel di Bandung, Bandingkan Tarif dan Baca Ulasannya | Cek Hotel di Surabaya, Bandingkan Tarif dan Baca Ulasannya

Selain itu, sambung Dien, pelanggaran yang dilakukan oleh pengelola Klinik Metropole adalah melakukan kegiatan operasi dan mempekerjakan tenaga asing tanpa izin. Atas dasar itulah, pada Agustus 2014, pihak pengelola Klinik Metropole mendapat teguran dari Kasudin Kesmas Jakbar namun teguran tersebut tidak membuat pengelola kapok.

"Jadi, sekarang, mereka sudah tidak punya izin. Kalau mereka masih tetap melakukan praktik, itu urusannya sudah pada ranah pihak kepolisian," ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah keluhan pasien telah ramai diperbincangkan di sosial media. Selain dokternya orang asing yang diketahui warga Singapura namun tidak bisa berkomunikasi dengan bahsa Indonesia dan bahasa Inggris, ada dugaan pemaksaan yang dialami pasien sehingga biaya yang ditanggungkan kepada pasien menjadi sangat besar.

Ibu S, misalnya, mengaku ke klinik ini untuk memeriksa menstruasi, namun setelah diperiksa disana dia merasa hasilnya aneh-aneh, kemudian disuruh periksa macam-macam, yang ujung-ujungnya terapi sehingga biayanya membengkak. (jo-6)

Mengunjungi London? Cek Daftar Hotel, Bandingkan Tarif dan Baca Ulasannya | Wisata ke New York? Cek Daftar Hotel, Bandingkan Tarif dan Baca Ulasannya | Jalan-jalan ke Las Vegas? Cek Daftar Hotel, Bandingkan Tarif dan Baca Ulasannya
Diberdayakan oleh Blogger.